Mari Berdiskusi – Politik warung kopi

            Aroma rokok dan pahitnya kopi mewarnai sore hari saya sebagai mahasiswa gabut yang menjelang menjadi legenda, tiba – tiba saya melihat beberapa kumpulan manusia yang sepertinya sedang mengumpulkan massa entah untuk apa, mungkin sedang berpikir tentang November ceria. Kejadian beberapa minggu terakhir cukup menguras energi saya yang mengikat janjia setia dengan rebah, dan baru kali ini saya melakukan sebuah perselingkuhan yang tidak saya sesali sama sekali. Kejadian yang terjadi pun membuat saya merasa sangat luar biasa bahagia, mulai dari kebahagiaan pribadi dimana akhirnya saya menjadi bagian dari masyarakat yang berguna walaupun kegiatan saya hanya menjadi sebuah kegiatan yang minor dan bukan gerakan yang kemudian dapat menggiring masa atau langsung dapat dirasakan efeknya oleh masyarakat, saya mungkin menjadi bagian paling minor dibandingkan dengan gerakan lain yang mampu menjadi gerakan yang sentral untuk rakyat, tapi setidaknya untuk memenuhi kepuasan pribadi saya dan juga kebahagiaan karena ternyata menjadi mahasiswa tidak hanya berbicara mengenai skripsi dan magang.
            Selain kebahagiaan sebagai seorang aktivis amatiran yang baru sekali turun kejalan ada juga kesedihan yang teramat sangat mendalam, ketika saya dan teman – teman kelompok belajar rembulan berupaya untuk menginisiasi sebuah gerakan aksi sederhana didalam kampus yang bertujuan untuk menyuarakan penolakan pada ruu dan revisi UU KPK ada sebahagian mahasiswa yang mungkin ketololannya sudah mengakar jauh ke dalam badannya tidak hanya didalam pikirnya, dia sudah bodoh sejak masih sperma. Hanya kalimat itu yang kemudian membawa saya kembali kepada ketenangan dan berdamai dengan masalah tersebut. singkat cerita gerakan yang kami inisiasi sudah mendekati kata mufakat dalam pembentukan dan aliansinya, namun yang namanya hidup pasti ada masalah, dan benar masalah itu datang. Upaya kami dalam mengkonsistensi sebuah gerakan mahasiswa masih saja dianggap sebagai ajang untuk menjadi kontestasi politik.
            Unik, karena mereka masih menggunakan sebuah panggung mahasiswa itu hanya untuk politik kampus. Yang membuat hal ini semakin unik adakah prestige untuk ada didalam sana tidak sebanding dengan kegiatan mahasiswa dalam membela rakyat. Sedikit bercerita bahwa turun pada politik intra kampus membutuhkan praktisi, desainer, dan juga eksekutor hebat yang meraih kemenangan di eranya selain itu dibutuhkan sebuah tempat luar biasa untuk mempertemukan dan menggodok semuanya, dimana kah itu? Warung kopi, dan tak terbantahkan lagi warung kopi selalu menjadi alternative terbaik yang kemudian menjadi sebuah tempat yang bersejarah bagi tiap orang yang ada disana.
            Berbicara mengenai warung kopi tentunya warung kopi tidak hanya digunakan sebagai sarana untuk minum kopi dan bersantai saja, toh nyatanya, politik kampus banyak yang dijalankan diwarung kopi, iniasi aksi juga banyak yang dikembangkan di warung kopi dan banyak lagi hal – hal hebat yang terjadi di warung kopi. Saya cukup terhenyak ketika saya diajak untuk ngopi dengan senior saya disebuah warung kopi pinggir jalan, terutama saya terhenyak dengan tempat warung kopi ini. Warung kopi ini sangat istimewa bukan hanya sekedar dipinggir jalan, warung kopi ini lebih dari itu, persis didepannya adalah sebuah pekuburan warga dan disebelahnya merupakan sebuah tanah kosong dengan banyak sekali pohon yang tinggi menjulang menunjuk langit. 
            Ketika hadir warkop itu saya melihat banyak hal yang asing mulai dari cara mereka minum kopi dan cara mereka bercengkrama namun ada satu hal yang membuat saya terkaget kaget tapi sangat indah pemandangannya, mereka semua saling bercengkerama dengan nikmatnya dan begitu asyiknya dengan latar belakang yang berbeda – beda bahkan setelah saya cukup lama ngopi disini saya akhirnya sadar bahwa mereka bukan kenalan akrab tapi hanya sekedar obrolan santai warung kopi, luar biasa.
            Semakin lama saya semakin banyak saja hal unik dari warkop ini, mulai dari gaya berbicara mereka yang medhok ala jawa timuran, ternyata mereka juga mengadakan sidang paripurna disini! Sungguh aneh dan tak lazim, mereka mengadakan sebuah perumusan tatib di warung kopi bahkan mengadakan konsolidasi untuk menaikkan seorang calon presiden entah untuk EM ataupun untuk himpunan.
            Melihat kondisi perpolitikan dalam negeri saat ini disaat sidang besar untuk membuat sebuah undang – undang dan juga regulasi yang bisa akan diterapkan untuk negara ini mungkin mereka harus belajar banyak dari warga warung kopi ini, mereka sepertinya butuh studi banding ke warkop – warkop terdekat bukan lagi keluar negeri dan menghabiskan banyak biaya sedang tak menghasilkan apa – apa selain uang habis dan plesiran. Saya harus dengan berat badan saya yang menjelang tak normal ini mengatakan bahwa apa yang mereka rumuskan lebih rendah dari apa yang para mahasiswa ini rumuskan dan rundingkan di warung kopi.
            Sangat jelas, apa yang mereka lakukan diwarung kopi ini sangat konkret dan tak terbantahkan karena langsung berefek jelas dan tak sekedar omong kosong untuk mengeluarkan anggaran bagi dirinya sendiri, karena siapa yang akan membayar mereka? Mereka hanya mengandalkan uang jajan dari uang mereka atau hasil kerja sambilan mereka yang tak seberapa dibandingkan dengan jumlah gaji pokok seorang wakil rakyat (katanya) yang ada digedung duit cepe sana.
             Saya merasakan sekali apa yang dilakukan oleh para warga warung kopi ini lebih berefek kepada masyarakat baik buruknya, contohnya kedatangan rombongan bajingan liar yang mengatasnamakan mereka sebagai keamanan dan penjaga parkir, keberadaan mereka langsung terasa keburukannya tanpa ada manfaatnya sama sekali. Bukan mendiskreditkan para tukang parkir diseluruh Indonesiaku tercinta, tapi mereka ini memang hanya serombongan bajingan. Berkedok warga setempat, mereka awalnya mengadakan kegiatan pengajian di mushola yang ada didepan warkop, untuk menjaga kehormatan sebagai orang – orang yang baik. Tapi tak lama dari itu teman saya yang memang sangat sholeh ingin melakukan kegiatan ibadah sorenya disana, baru 2 menit berlalu dari saat dia pamit untuk sholat dia kembali lagi untuk meminjam motor dengan wajah yang tak enak. saya tanyakan ada apa hingga dia memasang wajah pahit setelah menghadap tuhannya, saya bertanya – tanya sekali, saya kira dia sudah sedekat itu dengan Tuhannya hingga mungkin saat ia tadi berdoa Tuhan tak mengabulkan keinginannya. Tenyata, banyak botol minuman keras yang masih ada terlihat sisanya.
            Ya itu memang terlihat dari sisi buruknya dari sisi baik penjaga parkir itu dan para wakil – wakilan itu? Tidak ada.

Komentar

Posting Komentar