Prolog - Senja Diambang Pintu.

Ku buka tulisanku ini dengan kalimat sederhana yang sering kali ku dengar diantara teman - temanku yang tengah memadu kasih asmara yang mendayu - dayu.

"Kita Dulu Pernah Sedekat Nadi, Namun Kini Kau Sejauh Matahari."
Namaku Ken Mahesa Jenar, aku adalah anak pertama dari dua bersaudara yang berbeda rupa dan tingkah laku, aku tengah menempuh perjalanan pendidikanku yang disebuah perguruan tinggi negeri dikota yang terkenal dengan mahasiswanya yang jumlahnya luar biasa. Kota ini membawaku kepada sebuah cerita luar biasa yang tak mungkin aku lupakan kehadirannya saat mewarnai kehidupanku, kisah tentang peraduanku dengan sebuah momentum indah yang tak pernah bisa ku kendalikan datang dan perginya, hingga akhirnya aku larut dalam lamunanku sendiri.

Pagi ini Danilla menemani pagiku yang kaku dengan nada suaranya yang menenangkan, hingga akhirnya aku menyadari lagu yang sedang ku putar membawaku kembali padanya, kasih yang ku rindukan.
“ Bayangmu ingin ku cumbu..Tapi tersapu oleh sadarku..Nyatamu kian merayu.Terbius aku hingga membeku..Tapi ku terharu kau terpaut oleh waktu.. ”
Hingga akhirnya aku tersentak dengan suara yang cukup keras. Ternyata Abi, adikku satu - satunya yang acap kali membuatku iri dengan apa yang telah ia raih, namun semua rasa iri hati itu aku mentahkan dan ku gantikan dengan kebanggan mendalam padanya. Abimantra Atmaja, aku sering mengejeknya dengan Abimantra "anakmanja" sebagai plesetan dari namanya yang ku sesuaikan dengan kepribadiannya yang cukup manja dengan orang tuaku. Sudah beberapa hari ini Abi menginap dirumah yang saat ini ku tinggali, ini bukan rumahku melainkan rumah yang ditinggalkan oleh nenek namun tidak ada yang ingin menempatinya hingga akhirnya aku berkuliah disini dan aku lah yang saat ini bertanggung jawab akan rumah ini.

Ia saat ini juga sedang menempuh jenjang pendidikan tinggi disalah satu Universitas negeri dikota sebelah, hanya beberapa jam dari kotaku tinggal. Abi sangat dekat denganku hampir tidak ada yang aku tidak aku ketahui tentangnya karena ada kemungkinan ia menyembunyikan sesuatu yang ia tidak mau orang lain tahu, sepertiku. Ternyata ia ingin berpamitan untuk berangkat ke perantauannya, aku hanya mengiyakan pelan sembari mengantarkannya ke selasar rumah dan mengingatkan dia untuk tidak mengikuti jejakku yang bermalas - malasan kuliah diwaktu akhir perkuliahanku. 

Sepeninggal Abi, aku kembali ke posisi favoritku dirumah yakni diteras belakang rumahku sembari menatap dinding usang yang sudah mulai lapuk termakan usia namun masih tetap dengan kesombongannya untuk berdiri tegak menjaga rumah ini. Aku terduduk dalam diam dan kembali terbuai dengan apa yang baru saja ku ingat, pikiranku terbang mengawang jauh ke masa - masa yang lampau dimana aku yang saat ini benci dan seringkali menghardik aku dimasa itu. Hal seperti ini sering terjadi karena aku yang menanti sebuah kehampaan ditempatkan pada kesendirian yang membuahkan penyesalan.

Ah, pikiranku sudah mulai kacau, semua hal yang ku rindukan silih berganti bermunculan dipikiranku bagaikan deretan foto dan sketsa pada sebuah pagelaran, tak sadar aku sedari tadi sudah memeluk gitar tanpa membunyikan satu nadapun daripadanya, aku hanya memeluknya dan menopangkan daguku pada lekuk badannya. mataku kosong, bibirku bergetar, dan dengan lirih terucap dari lisanku sebuah kata yang bernadakan kesedihan dan penyesalan serta getir - getir ketakutan untuk menghadapinya. "Kenapa..?"

"Gapapa Ken, I'm Fine, Cuma butuh korek aja"

Aku terperanjat dan hampir melempar gitarku kearah datangnya suara tersebut, hingga aku menyadari bahwa Sandra lah yang duduk disana, sembari tertawa kecil dengan tangan menengadah meminta korek api. Aku pun kembali dapat bernapas normal sembari memberikan korekku kepadanya, tak lama dari situ aku menyadari bagaimana caranya ia tiba - tiba ada disini, rasanya aku sudah menutup semua pintu. Ia pun menjelaskan bahwa aku sama sekali tidak menutup pintu, dan pagar rumahpun hanya dislot tidak dikunci. Huh, aku beruntung bukan penjahat yang memanfaatkan keadaan dan masuk rumahku.

Setelah membakar rokoknya Sandra melemparkan kunci mobilnya kearahku dan mengingatkanku bahwa aku sudah berjanji untuk menemaninya servis mobil. Sandra memang tidak terlalu mengerti urusan merawat kendaraan oleh karenanya ia mengandalkanku untuk urusan ini. Jujur rasanya aku malas sekali untuk keluar rumah, tetapi, promise is promise jadi aku tidak mungkin tidak menemaninnya. Akupun akhirnya bangkit untuk mandi dan bersiap dengan malas - malasan, namun suara Sandra sudah lebih dulu melengking memenuhi ruangan sebelum aku sempat bermalas - malasan lagi.



Komentar