Kali ini aku terhenyak, terhempas, tertampar, dan ter - ter lain apapun itu yang menyampaikan tentang kesakitan. Bukannya aku seorang pengecut yang tiada mampu untuk menerima sebuah kesakitan dan mengeluh menghilang mencari pelarian, hal ini justru berbeda, hal ini justru mencambukku untuk berbuat sesuatu dengan diriku yang menuai tua sesusai beriring masa. Aku menyadari pada masaku ini aku tak lagi berupaya dengan iq yang semakin hari mulai membumi namun juga aku belum lihai untuk menggunakan eq-ku yang tak siap mengangkasa, Tuhan yang semestinya membantupun tak ku pergunakan dan ku binasakan.
Bodoh bisa dibilang ketika aku akhirnya menyadari betapa banyak jalur yang ku sia - sia kan selama ini, seharusnya aku sudah mampu mendekati kesuksesanku namun tak bergemingku untuk mengarahkan pandangku padanya. Jalan yang ku tempuh sudah benar, kendaraan yang ku gunakan sudah sesuai, tapi tak kunjungku menghidupkan mesin dan menggesak aspal. aku justru terlena dengan kenyamanan dan pesona yang hanya ada dalam bayang - bayang tak bertuan, atau mungkin, namun tak bersesuaian. Hal lain yang ku sadari seperti yang kusampaikan diawal, aku tak mampu menahan eksistensi iqku seperti Enstein, namun emosiku pun tak lebih dari remaja labil yang tak kenal dunia.
Kodratku atas label yang menempel ini tak ku pergunakan dengan benar, aku hanya mendompleng citra yang ditorehkan para senior tanpa membuat terobosan bahkan imitasinya, aku hanya bergeming bahwa aku MAHASISWA tanpa pernah bergerak dan menjadi apa yang seharusnya label itu lakukan. Tuhan mungkin jengah melihat tingkahku yang semakin tak karuan, adiksi terus menggerogotiku, tidak aku tidak menggunakan barang haram yang dilarang pemerintah demi kebaikan rakyat itu, katanya. Dan akhirnya aku jengah dengan diriku sendiri, yang tlah ditampari, dipukuli, dibanting, bahkan dikebumikan dengan keilmuan namun tak jua melakukan perlawanan. Aku justru seperti seorang masokhis yang menggelinjang dengan kesakitan itu.
AKU HARUS BERUBAH.
Itu tekad yang kusampaikan sekitar setahun lalu ketika fenomena besar itu terjadi, tatkala tumpukan batu tua yang hadir ribuan tahun lalu itu memukau jiwa dan menggelorakannya membuatku berpikir bahwa sudah tiba masanya aku menjadi orang yang lebih baik. namun yang terjadi ialah kehampaaan, kehampaan perubahan ini laksana oksigen pada keindahaan bumi dari bulan. Nol. Hingga akhirnya aku dipertemukan dengan tamparan yang paling menyakitkan yang menghentak jiwaku hingga titik terdalamnya. Aku Menua.
Kembali ku buka lembaran kertas bersampul yang selama ini pengejawantahannya merasuki kehidupanku selama ini. ku tengok lembarnya satu persatu dan aku tetap merasakan hal yang sama ketika menengoknya saat pertama otakku mencari tiap baitnya, kagum. akhirnya aku kembali berfokus dengan label yang tersemat padaku, "aku harus berbuat sesuatu" adalah hal yang menggusur semua pikiranku tentang hal - hal bodoh yang akan membuatku menjadi Tuan Krabs dalam serial kesayanganku, kecuali satu, keterlenaanku.
Sungguh membosankan membawa label indah yang tak bisa disandang oleh semua orang ini, datang - kelas - mengantuk - merokok - lapar - ngopi - pulang, hanya itu. Kalau kalian sempat berpikir bahwa menyemat label ini kalian akan dipenuhi kesibukan dan menempa kalian, kalian tak sepenuhnya salah tetapi kalian juga tak sepenuhnya benar kurang lebih kalimat itu dapat menjelaskan segalanya, kalimat yang ku kutip dari seorang purna pengajar kampusku.
Masaku yang mulai senja dikampus menggiringku pada pilihan - pilihan yang mudah dielakkan namun sengaja ku hampiri. Pilihanku jatuh pada hal yang luar biasa mencucuk hidungku untuk kembali bergumul dan kembali setia pada lembar - lembar itu. Tetapi hal itu berlangsung singkat saat cucuk hidungku dilepas namun bukannya pergi berlarian mencari kebebasan aku lebih memilih untuk terus mengikuti giringan itu dan tak meninggalkannya, aku mencintainya. sesaat saja semua kebuntuan yang selama ini tak ku temukan penyelesaiannya menemukan titik cerah.
Mam, Tak lama lagi, Anakmu Sarjana.
Doakanku, Bimbing, dan Restui Jalan Anakmu ini,
Be, Aku kan buatmu bangga.
beristirahatlah dengan tenang, Aamiin.
Komentar
Posting Komentar