Aku Yang Liar dan Kau Yang Tak Bertepi

Aku sadar tentangku.
Seonggok sampah limbah dibantaran.
Yang berkelir hitam legam temaram.
Terbuang karna tak perlu.
Beraga sempurna bersifat hewan.
Yang kalau matipun semua diam.

Aku menyimpulkan sesuatu.
Aku yang liar dan kau yang tak bertepi.
Sehingga seberapa jauhpun aku berlari.
Segila apapun aku melakukan segalanya.
Semua menjadi tak berguna.
Tak terhitung daya upaya.
Karna tiada nampak tepimu.

Aku yang liar dan kau yang tak bertepi.
Aku berusaha menyaru dengan jalanmu.
Menyatu dengan segala haluanmu.
Sayangnya memangku yang terpaku.
Karena aku seperti itu.
Terlalu gila dengan caraku.
Bergerak tak menentu.
Dan hanya patuh kala terjatuh.

Aku penghianat dan kau yang terhormat.
Sungguh jauh bak langit dan bumi.
Laksana kerasnya air dan api.
Atau seperti minyak dan air.
Tak bisa menyatu.
Hanya bisa menggerutu.

Sekali lagi pujangga berkata.
Aku yang liar dan kau yang tak bertepi.
Aku yang khianat dan kau yang terhormat.
Maafkan jika sejarahku salah.
Maafkan atas rasa yang terjarah.
Ku nikmati kesakitanku.

Dilema dan cemburu yang tak menentu.

Komentar