Keluh Kesah

Malam ini kembali aku mengingatmu, perkara parasmu yang terus membayangi siang malam ku.

Hei Perempuan yang selalu hadir dalam hari - hariku walau sekuat apapun kau lari dan mencoba luput dari pandanganku, baik.. aku akan mengaku aku memang bukan lelaki baik - baik yang bisa kau idamkan atau kau banggakan, aku juga bukan lelaki yang mampu membuatmu tertawa setiap kita bertemu, namun satu yang kiranya dapatku janjikan padamu yakni aku Seorang lelaki biasa ini yang tiada punya kemampuan lebih ini, yang tiada miliki pengaruh apa apa ini akan menyertamu dalam doaku, menyertamu dalam keyakinanku, menyertamu dalam fikiranku. Tiada lagi yang dapatku janjikan untukmu duhai pujaanku.

Lucu ya tingkahku ini, seolah - olah aku ini sudah menjadi bagian dari hari - harimu, orang yang biasa kau temui, orang yang biasa kau ajak bicara ketika kau tiada mampu lagi meluapkan kebahagiaanmu ataupun menangis pilu ketika kau gusar akan kekecewaanmu kepada dunia. bahkan pesan singkat yang ku kirimkan padamu saja tiada pernah kau balas, atau bahkan kau sudah memblokir kontakku? bisa saja, dan itu tidak salah, ya aku sadar betul bagaimana buruknya aku, bagaimana kurang ajarnya aku terhadap seseorang itu, namun tiada bolehkah seseorang mendapatkan sebuah kesempatan?.

Mungkin tiada pernah kau sadari betapa aku menikmati setiap detik ketika aku bersamamu, oh tidak tidak, bukan  bersamamu lebih tepatnya memandangmu, karena kurasa kita tidak pernah bersama walaupun kita berada ditempat yang sama, berdekatan, bahkan sempat beradu pandang aku tidak yakin bahwa kau mengerti apa yang ku rasakan, mungkin terlalu jauh jika untuk mengerti yang ku rasa, mungkin lebih tepatnya begini, apakah kau menganggap aku ada ketika ada aku disekelilingmu? atau kau hanya menganggapku sebagai sebuah bayangan yang tidak berarti dan tidak perlu diperhatikan? kurasa jwabannya iya.

Setiap obrolan yang kau buat terasa bagaikan sebuah anugerah dari tuhan, dan aku menikmati setiap abjad yang kau keluarkan dari mulutmu dan aku juga begitu, obrolan itu terasa sangat mahal harganya bahkan lebih mahal kurasa apabila dibandingkan dengan piranti yang ku gunakan saat ini, karena tidak akan setiap hari aku mendapatkannya, jangankan sebuah obrolan sebuah polesan senyumpun sungguh menjadi suatu hal yang langka, jika aku mampu untuk mengabadikan senyum itu maka akan ku potret dan ku pajang di dinding kamarku untuk menemani kesendirianku ini. 

Tak bosan - bosannya aku melantunkan lagu - lagu sendu yang memiliki potongan lirik yang serupa dengan asaku padamu, tak habis - habis mulutku mengoceh akan indahnya dirimu dalam puisi yang tak sempat lagi ku tulis karna seringnya aku memikirkanmu, aku belum selesai denganmu, mungkin masih banyak lagi tulisan yang jika sempat tertulis akan ku tulis untukmu, sungguh tiada lebih yang ku minta padamu, kecuali dapatkah aku meminta sebuah kesempatan untuk bersamamu? dan berteguh kita kepada tuhan untuk mengikatnya?

Apa aku terlalu naif dan bodoh untuk mencinta? karena tidak semua hal dapat membantuku untuk mewujudkannya, atau aku terlalu banyak membaca romansa yang membuatku terus mengupayakanmu padahal kau semakin hari semakin menjadi sosok yang mustahil untuk menjadi sebuah kenyataan?.

ALLAHU MUQALLIBAL QULUUB


“Kita semua memang telah menjadi bodoh, dengan menjadi terlalu cinta kepada cerita-cerita yang bagus, sehingga memaksakannya untuk menjadi kenyataan itu sendiri.” - Seno Gumira Adjidarma

Komentar