GADIS ITU T’LAH TIADA

“Joy!” teriaknya. 
Aku yang sedang menikmati tidur siangku seketika tersentak bangun. 
“Apaan sih, Rub? Ganggu aja orang lagi enak tidur” ujarku kesal. Ternyata Ruben, sahabatku sejak SMP.
“Maaf deh aku ganggu tidurmu, tadi kamu bilang mau ke kampus kok malah tidur, lagian itu si Zahra dari tadi nelfon kamu terus tuh”. Astaga, aku lupa kalo aku janji mau antar Zahra ke kampus buat nonton teater.
“Oh iya Rob, kok aku lali yo, makasih yo wes bangunin, yowes tak mandi dulu”.
Tak berapa lama setelah aku dibangunkan oleh Ruben, aku langsung berangkat menjemput Zahra. 
“Maaf ya Zey telat, aku tadi ketiduran hehehe,” ujarku sambil tersenyum malu.
“Yowes ndakpapa, Joy. Yaudah ayo berangkat nanti kita telat nontonnya,” ujarnya dengan nada sedikit kesal. 
“Oke, let’s go!”. 
Hari ini kami memang berencana untuk nonton teater di kampus. Sebenarnya bukan teaternya yang jadi fokus utamaku, melainkan Bunga, teman sekelas Zay di kampus. Gadis yang cantik, sopan, dan juga menawan.

Setelah pertunjukan selesai, aku dan Zay langsung mengahmpiri Bunga.
“Kon cantik tenan loh tadi Bung,” ucap Zay dengan dialek jawanya yang sangat kental. Maklum lah, ayahnya orang Surabaya asli, dan ibunya orang Bojonegoro. 
“Iya kah? Makasih loh, eh Joy kamu kok ga bilang aku cantik juga? Kamu ga nonton aku pentas ya tadi?”
“Uwes capek Bung aku bilang kamu cantik, tiap ketemu kamu hati aku selalu bilang kamu cantik” 
“Alah gayamu Joy, kebanyakan gombal kamu.”

Bunga adalah gadis yang selalu aku idam-idamkan untuk jadi pasangan hidupku. Namun ternyata takdir tidak berpihak padaku, dan takdir pula lah yang membukakan mataku tentang dia yang sebenarnya.

Malampun datang dengan cepatnya. Kulihat arloji tua pemberian dari mendiang kakakku ternyata sudah menunjukkan pukul 7. 
“Makan yuk,” ujarku berinisiatif.
“Yuk, laper nih” ujar Bunga menyetujui.
“Aku ga ikutan ya, si Ryan ngajak jalan nih tiba-tiba” ujar Zahra.
“Yah Zay, masa gua ditinggalin sama om-om ini sendirian sih” ujar Bunga.
“Yeh, tuaan kamu kali daripada aku Bung,” ujarku sewot. Bunga pun tertawa melihatku sewot dan langsung menarik Zay sedikit menjauh. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, lalu ketika Bunga kembali, Ryan yang tak lain adalah kekasih Zay datang dengan sedan mewahnya. 
“Kita duluan ya, daaah! “ ucapnya seraya pergi meninggalkan kami.


Kami pun akhirnya meninggalkan kampus menuju sebuah restoran langgananku dan Zay dari saat kami pertama kali kenal. Zay adalah sepupuku dari ibu.
“Bung, main hape mulu, kamu mau pesen apa?” ucapku.
“Aku fettucini aja, sama es jeruk,” ucapnya sambil tetap menatap handphonenya.
”Jadi gimana? Udah siap buat bulan besok ke Spanyol?” ucapku membuka pembicaraan.
“Gimana ya Joy, aku jadi galau mau ikut apa nggak, Garin ngajak aku pergi juga bulan depan” ujarnya. Garin? sejak kapan Bunga deket sama Garin? ucapku dalam hati.
“Eh bung, ini ke Spanyol loh, bukan ke Batu. Kalo sekedar ke Batu kamu batalin juga gapapa. Lagian ada urusan apa kamu sama Garin?”
Bunga pun menjelaskan bahwa dia dan Garin memang sedang dalam masa pendekatan, aku pun kaget bahwa ternyata dia ada hubungan dengan Garin. Garin adalah temanku di klub basket kampus, dia memang anak orang kaya dan wajahnya pun bisa dibilang cukup tampan walaupun badannya sedikit bongsor. 
“Tapi Bung, ini ke Spanyol loh, katanya mau ketemu Ronaldo?” ucapku agak sewot.
“Tapi dia juga ngajak aku ke Maladewa dua minggu, Joy! Gila, masa ke Maladewa gratis aku tinggalin gitu aja?” ujarnya menjelaskan. Aku tak habis pikir  betapa gilanya anak ini meninggalkan hadiah liburan dari kampus ke Spanyol gitu aja, ya walaupun cuma seminggu.
“Yasudah terserah kamu aja gimana enaknya, mau jalan rame-rame ke Spanyol atau liburan berdua ke Maladewa.” ucapku ketus.

Suasana malam itu berakhir dengan canggung. Bunga pulang dijemput oleh Garin dan aku kembali ke kontrakanku dengan hati campur aduk. Ternyata tu anak udah lama juga ya deket sama Garin, pikirku sambil menghembuskan asap rokok yang baru  saja kubakar ketika sampai dikontrakan. 
“Woy mas! Bengong aje, kenapa lu?” Julio datang mengagetkanku.
“Brengsek lu Jul, untung gak copot jantung gua,” ucapku sewot. Julio ini sahabat terdekatku saat ini. Hanya dia dan Zahra lah yang tau tentang benih-benih perasaanku terhadap Bunga. Akupun menjelaskan padanya apa yang baru saja terjadi. 
“Udahlah, Joy. Kan gua udah bilang si Bunga itu ga pas buat lu. Mending lu balik ke Jakarta dah, biar referensi cewek lu banyak, jangan Bunga doang isi otak lu.” 
“Iyasih Jul, udah lama gua ga balik ya, kangen classic jadinya gua,” ucapku seadanya untuk menghentikan ceramah kosong Julio.

Keesokan harinya setelah kuliah, Julio bercerita padaku bahwa riwayat si Garin itu buruk. Hampir semua mantannya rusak dan jadi cewek ga bener.
“Namanya juga orang kaya, Joy. Kayak ga ngerti aja lu,” ucap Julio.
Perasaanku berantakan. Pikiranku mengawang kemana-mana. Aku bukannya membayangkan apa saja yang sudah dilakukan oleh Garin, fokusku adalah Bunga, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya. 
“Terus gua harus gimana, Jul?” 
“Yaudah sekarang aja lu tembak dia, gimana?” ucap Julio bersemangat.
“Weits, nggak lah Jul. Gak ada ceritanya seorang Andreas Jonathan alias Joy ini nikung temen, ya walaupun ga deket-deket amat. Gak deh, makasih, lagian gua juga belum paham bener apa gua bener-bener suka sama dia atau cuma kagum doing,” ucapku menjelaskan. Selanjutnya Julio pun masih terus mendesakku untuk menyatakan perasaanku kepada Bunga. 
Disaat kamu sedang seru-serunya debat, aku melihat Bunga masuk mobil Dian dengan teman-teman ice skating-nya. 
“Jul, Jul liat dah, kok si Bunga jadi deket sama Dian dkk ya?”
Julio pun ikut menatap ke arah mobil Dian. “Makanya Joy, nyari bahan buat tesis jangan kelamaan, nih gara-gara lu kelamaan di Wakatobi kemaren nih, jadi ga tau informasi kan lu” ucapnya sembari pergi.
“Ntar di kontrakan gua ceritain, ayo cabut.”

Sesampainya di kosan, Julio pun menceritakan kalau ternyata si Bunga itu ribut sama temen-temennya karena Garin. 
“Jadi ada noh temen kelasnya namanya Rika, lagi PDKT juga sama Garin. Eh taunya si Bunga dideketin Garin, terus ninggalin Rika, yaudahlah ribut mereka,” ucap Julio sambil membakar rokok. 
“Tapi Jul, Dian dkk kan anak nongkrong ala-ala gitu, bajunya kurang bahan, rokok mulu, mabok mulu, free sex mulu,” ucapku.
“Nah makanya gua ngeri dia ketularan, ditambah Garin yang kelakuannya juga sama aja kayak mereka,” ucap Julio menyetujui.

Hari demi hari berlalu tanpa ada hal yang menarik. Aku semakin jarang melihat Bunga, bahkan dengan Zahra pun aku jarang ketemu. Aku pun mengirim pesan singkat pada mereka.

Text:
Pada kemana sih? Kok ngilang semua?

Hanya Zahra yang membalas pesanku, ternyata dia sedang mempersiapkan diri untuk magang. Aku pun bertanya padanya kemana perginya Bunga.
“Hmm, mungkin lagi sibuk sama Garin.” 
Disitu perasaanku sedih sekali, dan disitulah aku merasakan sakit hati mendengar bahwa Bunga semakin dekat dengan Garin.

Teringat kembali masa-masa ketika pertama kali hatiku tersangkut padanya, ketika kami sedang mengikuti seminar di Korea. Kemana-mana kami bersama. Teringat kembali senyum indahnya saat berada di taman sakura di Seoul, betapa indahnya memori itu. Saat itu aku belum merasakan apapun, hingga disaat makan malam bersama terakhir kami di Korea, aku benar-benar merasa jatuh cinta padanya.

Seminggu sebelum keberangkatan kami ke Spanyol, Bunga menelfonku. Ia bertanya apakah aku ada dirumah atau tidak. Kubilang saja iya. Setelah kutanya ada apa, ternyata ada file tentang keberangkatanku yang harus kami selesaikan. Tak lama berselang, Bunga pun datang. Tak seperti biasanya kini Bunga memakai polesan make-up, dan baju yang bisa dibilang tanktop dan hanya ditutupi jaket kecil. 
“Darimana mbak? Segala pakai make-up ke rumahku doing,” ucapku sambil tersenyum. 
“Abis jalan sama Garin. Tadinya sih jalan sm Dian, terus di jemput Garin diajak nonton,” katanya seraya membanting tubuhnya ke kasurku. 
“Oalah pantesan pake make-up, abis jalan sama bojone toh”. Pikiranku mengawang lagi, hatiku kembali tergores mendengarnya, Garin sepertinya memberi banyak perubahan dihidupnya. 
“Ada file apa, sih? Kayaknya penting banget sampe kamu kerumah,” ucapku sambil menyalakan televisi.
“Gak ada. Aku boong aja sama Garin biar bisa ke rumah kamu. Aku kangen kamu Joy. Tapi Garin gak ngebolehin aku main berdua sama kamu, makanya yang terakhir kita makan aja dia jemput aku kan?” ucapnya sedih.
“Ealah mbaak, belum jadi pacar aja udah ngatur gimana jadi pacar, jadi pesuruh kamu,” ucapku asal.
“Mungkin dia cemburu karena belum tau kamu, Joy” ucapnya menjelaskan. Malam itu kami menghabiskan malam dengan penuh canda tawa dan akhirnya dia kuantar pulang sekitar pukul dua pagi.

Keesokan harinya, aku punya perasaan bahwa aku tidak akan bertemu lagi dengannya. Firasatku benar, aku tidak menemukannya dimanapun, kupikir paling dia sedang sama Garin. Lalu aku pun ngeloyor pergi ke kantin, nongkrong sambil menunggu Julio atau Ruben datang. Tidak lama, Julio dan Ruben datang berboncengan. 
“Darimana kalian, kok naik motor segala?” ucapku sambil bersalaman dengan mereka.
“Abis dari bengkel, ban gua bocor,” ucap Julio. “Eh joy, tadi gua liat si Garin noh bareng sama Bunga keluar kampus” sambungnya. 
“Yaudahlah biarin aja, udah ga jadi urusan gua lah, kan mereka udah punya hubungan spesial sekarang,” ucapku dengan malas. 
“Ciat cemburu yo masbro, wes mas mumpung janur kuning belum melengkung sikat ae,” ucap ruben sambil menggodaku. Aku pun hanya tersenyum malu.

Tak terasa hari berlalu dengan cepat, hari ini adalah hari keberangkatanku ke Spanyol. Semua barangku sudah kumasukkan ke bagasi mobilku dan siap untuk berangkat. Ruben, Zey, dan Julio mengantarku ke bandara. Sesampainya di bandara, aku dan yang lain langsung menemui rombongan, terlihat yang lain begitu banyak membawa barang, tak sepertiku yang hanya bermodal 1 koper besar, 1 tas punggung, dan 1 tas paha. 
“Nih, minum dulu,” ucap Zey sambil memberiku, Julio, dan Ruben minuman kaleng. Namun ada yang aneh, hingga saat ini Bunga belum datang juga, dan dia tidak membalas pesanku sejak terakhir kami bertemu. Aku menduga bahwa ia lebih memilih pergi ke Maladewa dengan Garin dibanding pergi ke Spanyol bersamaku dan yang lain. Sesaat sebelum aku masuk ke dalam untuk pemeriksaan tiket, Bunga datang di antar Garin. Julio yang melihatnya langsung menepuk pundakku. 
“Joy! Noh Bunga dateng sama Garin,” ucap Julio setengah berteriak. 
“Gede banget ah suara lu, kalo dia denger kan gak enak,” ucapku sedikit sewot. Aku pun mencari dimana Bunga, dan setelah aku melihatnya, aku menyesal mencarinya. Saat ia turun dari mobil, Garin membantu mengambil kopernya dan melayangkan ciuman ke pipi Bunga. 
“Shit! Tau gitu gua ga nyari, Jul.” ucapku menggerutu dan langsung meninggalkan mereka. Zahra lari mengejarku dan menenangkanku, serta ia juga memintaku untuk melupakan sejenak masalah ini, dan ia juga memintaku untuk tetap bersikap baik dan menjaga Bunga disana. Aku menyetujui semua permintaannya, namun aku tetap berjalan duluan masuk ke ruangan check-in.

Di luar, Bunga cipika-cipiki dengan Zay dan berpamitan dengan mereka, serta buru – buru masuk katanya untuk mengejarku. Aku tidak tahu apakah dia melihatku melakukan hal tadi atau tidak, aku tidak peduli, hatiku menjadi kaku melihat hal tadi. 
“Joy! Tunggu!” ucap Bunga berteriak.
“Hoy, Bung. Kemana aja kamu, kukira kamu jadinya ke Maladewa,” ucapku dengan senyum yang agak dipaksakan.
“Maaf Joy, kukira tadi gak macet, jadi agak lambat aku berangkatnya. Emang udah telat kah?” ucapnya memelas. 
“Belum, cuma yang lain udah pada mau ke ruang tunggu aja,” ucapku seadanya. 
Kami pun menyusul rombongan yang sudah lebih dulu masuk ke ruang tunggu. Di ruang tunggu ternyata sudah penuh, dan kami tidak bisa duduk bersama rombongan, akhirnya kami duduk jauh dari rombongan. Bunga seperti biasa manja padaku, entah dia bersandar di bahuku, merengek untuk sekedar foto bersama, atau  hanya merangkul lenganku dan menggandeng tanganku.

Selama di pesawat, dia masih melakukan hal yang sama, yang berbeda adalah dia melepaskan handphonenya sekarang, kemudian meminta untuk tidur di pahaku, namun aku merasa tidak enak dengan teman-teman yang lain, dan juga pembimbing yaitu dosenku, namun ia tetap memaksa dan aku tidak bisa menolaknya. Selama ia tidur aku hanya bisa memandang wajahnya. Shit man, kenapa gua cinta banget sama lu dan kenapa lu sama garin! Pikirku. Akhirnya aku tertidur di iringi musik klasik yang aku tak tahu siapa pelantunnya.

Sesampainya di Spanyol, kami harusnya langsung city tour, namun karena perjalanan panjang, kami akhirnya memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. aku dan Bunga akhirnya berpisah ke kamar masing-masing. Malamnya kami keluar dari hotel, tidak bersama rombongan. Seperti di perjalanan sebelumnya, kami pergi keluar sendiri, karena tidak ada kewajiban kami harus terus bersama dengan rombongan. Kami pergi ke sebuah toko kopi kecil dan memesan beberapa makanan dan tentunya kopi panas.
“Suhu -2 derajat gini nih enak banget ngopi ya Joy,” ucapnya membuka pembicaraan.
“Iya, apalagi ditemenin sama rokok, pas banget dah,” ucapku sembari tersenyum.
“Yeh, kamu mah rokok terus yang dipikirin, gak ada yang lain apa, apakek cewek kek atau apa gitu,” ucapnya sambil sedikit kesal 
“Kemarin-kemarin sih ada, sekarang sih udah gamau mikirin dia, udah terlanjur kecewa walaupun aku masih sayang banget sama dia” jelasku.
“Kenapa tuh?” ucapnya penasaran, aku pun mengarang cerita dan entah apa yang waktu itu aku jelaskan padanya.

Diperjalanan pulang, Bunga kembali merangkul lenganku, yang kemudian aku tepis.
“Kenapa Joy?” tanyanya.
“Gak enak sama Garin,” jawabku seadanya, “Jadi gimana hubunganmu sama Garin, Bung?” tanyaku mengisi kekosongan.
“Gak tahu nih Joy, Garin belum juga nembak. Pokoknya kalo dia bulan ini ga nembak juga dia bener-bener brengsek,” jawabnya dengan nada kesal dan pandangan yang mengawang entah apa yang dibayangkannya. Sontak aku kaget mendengar jawabannya, tidak biasanya seorang Bunga berbica kasar seperti ini, Bunga yang kukenal adalah perempuan yang benar-benar sopan, dan baik perangainya.
“Kok gitu jawabnya?” sambungku, 
“Eh ehh hmm maksudnya ya masa aku digantungin, emang aku jemuran apa digantungin mulu,” jawabnya sedikit panic. Akupun tidak ingin mengorek terlalu banyak tentangnya lagi.

Keesokan harinya kami mengikuti sebuah seminar, ruanganku berbeda dengan Bunga, sehingga hampir sepanjang hari kami tidak bertemu. Kami hanya bisa bertemu ketika jam makan dan malam hari setelah seminar selesai, namun pada malam itu aku tidak bertemu dengannya karena ruanganku lebih lama keluar dari ruangan bunga dan yang lain, keluar dari ruang seminar pun aku langsung masuk kamar dan tertidur pulas. 

Empat hari kemudian barulah kami terbebas dari keperluan seminar. Dalam tiga hari terakhir aku jarang bertemu dengan Bunga, hanya bertemu saat makan dan ngobrol seadanya saat malam sebelum tidur.  
Hari ini aku malas sekali keluar kamar, rasanya badanku masih sangat letih, tiba tiba ada yang mengetuk pintuku, langsung segera aku membuka pintu kamarku, ternyata Bunga.
“Ngapain kamu kesini?” ucapku sambil mengucek mata 
“Eh, kok galak?” jawabnya sambil ngeloyor masuk. “Aku bosen Joy di kamar, mana Garin ga bales-bales chat aku, emang brengsek deh dia,” celotehnya.
“Ini apa sih dari kemarin malem kamu ngatain dia brengsek mulu, emang dia kenapa? Dia ngapain kamu?” ucapku seraya kembali masuk selimut. 
“Aku kasih semua ke dia, tapi dia seakan gak ngasih apa-apa ke aku,” jawabnya cepat. Belum sempat aku melanjutkan pertanyaanku, telepon bordering. Ternyata pembimbingku, dia bilang kalau kami harus segera bersiap untuk city tour dan melanjutkan perjalanan ke Barcelona, Bunga pun kembali ke kamarnya untuk bersiap dan begitu juga denganku.

Sepanjang perjalanan city tour, kami hanya berfoto dan tidak memedulikan apa yang tour guide kami bicarakan. Aku teringat janjiku kepada Zey, dan sejenak aku melupakan apa yang terjadi di Indonesia, dan membuat serasa hanya ada kami berdua di kota Madrid ini. Kami berpelukan, berfoto bersama, bergandeng tangan, saling merangkul, dan banyak lagi, aku menikmati momen ini dan merasakan kembali gelora cinta yang sempat redup oleh sakitnya hati ini. Betapa indahnya dia, memang pantas dia dinamakan Bunga. Keindahannya memang menyaingi konotasi dari kata Bunga itu sendiri. Selama di pesawat menuju Barcelona pun aku dan Bunga tetap bermesraan seperti sepasang kekasih. Aku sudah tidak memedulikan lagi teman-teman rombongan, toh mereka juga berbeda fakultas denganku, dan mereka juga tidak mengenalku, mereka hanya tau namaku, bahkan mereka masih memanggilku Andreas, bukan Joy seperti biasanya teman-temanku memanggil.

Keesokan harinya aku tidak enak badan dan memutuskan untuk tinggal di hotel, beruntungnya hotelku dekat dengan pantai Barceloneta. Akhirnya aku beranjak kesana, namun baru saja berdiri, kepalaku sudah pusing sekali. Akhirnya aku mengurungkan niatku untuk pergi keluar dan memilih untuk tidur. Aku terbanun dari tidurku saat mendengar bunyi telepon. Siapa yang menelfonku disaat seperti ini, rombongan? Tidak mungkin mereka sedang city tour.
“Hello, good afternoon,” ternyata resepsionis hotel menelponku. Katanya Bunga berada didepan kamarku, aku berusaha sekuat tenaga membukakan pintu. Setelah pintu terbuka, Bunga masuk dengan wajah kesal.
“Gak denger daritadi aku nge-bel sama ngetok ya? Lama banget bukanya,” aku tidak memedulikan kata kata Bunga, kemudian aku merasakan sesuatu mengalir dari hidungku. Yap! Darah tiba-tiba menetes. Aku terjatuh dan tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, yang aku ingat hanya mendengar Bunga berteriak memanggilku saat aku terjatuh.

Saat tersadar, aku sudah berada di kasur. Aku mencari dimana Bunga, “Bung…” panggilku lirih/ Bunga ternyata sedang memasak air untuk membuat minuman hangat, dia segera menghampiriku.
“Maaf ya Joy tadi aku ngomel, kamu jadi pingsan deh, abis aku kesel kamu lama buka pintunya, aku kira kamu sakit boongan…” ucapnya sambil duduk disampingku dan tiba tiba mengecup keningku. “Aku kangen kita yang kayak di Seoul, Joy. Aku kangen dulu.” ucapnya sambil mengusap kepalaku.
“Aku juga Bung, aku kangen kamu dan kita yang di Seoul, tapi aku tau itu ga akan terulang lagi, kamu sekarang punya Garin,” ucapku lirih.
“Kamu telat sih ngomongnya, dia udah masuk hatiku duluan,” ucapnya sambil pergi mengambil minuman hangat untukku. “Ini, minum dulu, habis itu tidur lagi gih, kamu tuh kecapekan kayaknya,” ucapnya. Aku hanya mengangguk perlahan.

Aku terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Aku melihat Bunga sedang menelpon, nada bicaranya begitu tinggi, dan bicaranya begitu kasar. Dia menghardik lawan bicaranya, aku bingung siapa yang sebenarnya ia telepon. 
“Brengsek ya kamu, Rin. Kamu pikir aku jablay apa bisa kamu pake abis itu kamu buang gitu aja?” ucapnya. Garin? Dipake? GILA?! Mereka udah berhubungan badan? Gak mungkin. Masa iya seorang Bunga mau ngelakuin itu? Aku berusaha untuk tetap tenang dan mendengarkan pembicaraan mereka, tetapi akhirnya telpon di tutup, Bunga menangis, dan aku berakting seolah baru bangun dan memanggil namanya.
“Bung… kamu kok nangis?” ucapku.
“Joy? Kamu udah bangun? Nggak, aku cuma sedih aja, aku ga enak sama kamu, aku buat kamu sakit gini,” ucapnya mengada-ada.
“Aku denger semua pembicaraanmu ditelpon tadi… maaf aku nguping jadi tolong jangan bohongin aku,” ucapku seraya berusaha duduk. “Kamu udah ngapain aja sama Garin? Terus kenapa tadi dia kamu katain brengsek lagi?” sambungku. 
Tangisnya pecah lagi. “Aku malu Joy, aku dibuat kayak jablay sama dia, dia gantungin aku terus makanya aku katain dia brengsek” ucapnya lirih.
“Jadi bener kamu udah hubungan badan sama dia?” tanyaku.
“Nggak Joy, aku belum pernah hubungan badan sama dia” jawabnya.
“Terus kenapa kamu bilang dia kamu jadiin kamu jablay?” sambungku.
“Aku udah kissing sama dia, dan aku udah oral sex dia Joy, dan dia sering pegang-pegang aku,” jawabnya. Aku tak kuasa menahan tangisku, bayangan seorang Bunga yang ada dipikiranku seketika musnah.
“Bung, keluar…” ucapku perlahan.
“Apa Joy?” tanyanya tak percaya.
“Keluar… aku kecewa sama kamu,” jawabku singkat. Bunga berlari memelukku, aku menerima pelukannya, aku cium keningnya sekali. “Keluar, Bung… aku kecewa sama kamu” ucapku lirih. Bunga pun meninggalkanku.
“Maafkan aku Joy,” ucapnya seraya menutup pintu.

Keesokan harinya aku sudah merasa lebih baik, hari ini aku kembali ke Indonesia, Bunga menyapaku, dan aku hanya tersenyum balik tanpa mengucapkan apapun. Aku berpegang teguh pada janjiku kepada Zahra, sepanjang perjalanan ke Indonesia aku diam seribu bahasa, berkali kali Bunga mengajakku bicara namun aku hanya membalasnya dengan senyuman, dan sepanjang perjalananpun aku tak melepas kacamata hitamku, untuk menutupi bengkaknya mataku karena menangis semalam. Tidak ada yang salah dari tangisanku, bukannya aku lemah, tetapi hatiku hancur dan akalku tidak mampu menerima kenyataan yang ada.

Beberapa hari dari kepulanganku dari Spanyol, aku dirawat inap selama empat hari, aku mengalami gejala thypus. Aku pun tidak lagi berhubungan dengan Bunga. Zahra datang menjengukku bertanya bagaimana hubunganku dengan Bunga, aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan betapa menderitanya hari-hari terakhirku di Spanyol. Dia menyemangatiku untuk move on dan berjuang untuk sembuh, aku yang kondisinya saat itu sedang drop pun kembali menjadi bersemangat.

Sebulan kemudian, aku mendengar kabar bahwa Garin dan Bunga sudah jadian. Bahkan ada kabar burung yang kudengar bahwa katanya Bunga sudah hamil. Sungguh aku sudah tidak peduli lagi dengannya, hanya kekecewaan yang ku ingat apabila aku mendengar namanya, walaupun kekecawaan yang dalam itu hanya aku sendiri yang tahu betapa dalamnya karena aku tidak pernah menyampaikan padanya betapa aku mencintainya.

Aku pun mengikuti saran dari Zahra untuk move on, aku memilih Move On sebagai materi tesis untuk skripsiku. Aku tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Bunga. Hingga pada saat aku wisuda, sahabat-sahabatku datang memberiku selamat. Ya, merekalah yang selalu ada di sampingku Julio, Ruben, dan Zahra.
“Joy, ada salam dari Bunga,” ucap Zahra.
“Bunga yang mana Zey?” tanyaku. 
“Bunga sing dhisike bojomu kasayangenmu ituloh,” ucapnya sambil tertawa mengejek.
“Maaf Zey, tapi gadis yang kamu bicarakan itu sekarang telah tiada,” jawabku sambil berjalan meninggalkan mereka.

Komentar

Posting Komentar